Pihak berwenang Belanda melalui Otoritas Konsumen dan Pasar (ACM) kini menyoroti ketat platform game online raksasa, Roblox. Investigasi ini bertujuan memastikan apakah Roblox sudah cukup melindungi anak-anak dari paparan konten kekerasan dan seksual yang tidak pantas, serta ancaman dari orang dewasa berniat buruk. Penyelidikan yang diumumkan pada Jumat ini diperkirakan akan berlangsung sekitar satu tahun.
ACM mencatat bahwa Roblox kerap menjadi sorotan publik akibat laporan game dengan konten eksplisit yang dapat diakses anak di bawah umur. Selain itu, ada kekhawatiran serius terkait keberadaan orang dewasa dengan niat jahat yang menargetkan anak-anak di platform, serta penggunaan teknik manipulatif untuk mendorong anak melakukan pembelian. ACM menganggap laporan-laporan ini cukup menjadi alasan kuat untuk meluncurkan investigasi formal atas dugaan pelanggaran aturan oleh Roblox.
Penyelidikan ini mengacu pada Digital Services Act (DSA) Uni Eropa, regulasi yang mewajibkan platform digital mengambil langkah-langkah tepat dan proporsional demi menjamin tingkat keamanan dan privasi yang tinggi bagi anak di bawah umur. Jika terbukti melanggar, Roblox bisa menghadapi sanksi berupa instruksi mengikat, denda, atau penalti. Bukan kali ini saja regulator Eropa bertindak tegas; pada 2024, ACM telah menjatuhkan denda sebesar 1,1 juta Euro kepada Epic Games, pembuat Fortnite, karena dianggap mengeksploitasi dan menekan anak-anak rentan untuk berbelanja di dalam game.
Menanggapi hal ini, juru bicara Roblox menyatakan komitmen kuat perusahaannya untuk mematuhi Digital Services Act EU. Mereka juga merujuk pada pengumuman November lalu mengenai rencana penerapan verifikasi usia melalui pengenalan wajah, demi membatasi komunikasi antara anak-anak dan orang dewasa. Roblox siap memberikan penjelasan lebih lanjut kepada ACM mengenai berbagai kebijakan dan perlindungan yang telah mereka siapkan untuk menjaga keselamatan pengguna di bawah umur.
Analisis: Investigasi ini menjadi sinyal jelas bahwa Uni Eropa tidak main-main dalam melindungi penggunanya, terutama anak-anak, di dunia digital. Kasus Roblox, ditambah dengan denda besar pada Fortnite sebelumnya, menunjukkan tren peningkatan pengawasan regulator terhadap platform game dan media sosial. Perusahaan-perusahaan teknologi kini dituntut untuk lebih proaktif dan transparan dalam menerapkan perlindungan anak, tidak hanya sekadar menyediakan fitur, tetapi juga memastikan efektivitasnya. Ini bisa menjadi preseden penting yang akan memaksa seluruh industri game untuk memperketat kebijakan dan sistem keamanannya demi menciptakan lingkungan online yang lebih aman bagi generasi muda.