SUNTIKAN ANTI HIV 2 KALI SETAHUN, SIAP JADI HARAPAN BARU? - Berita Dunia
← Kembali

SUNTIKAN ANTI HIV 2 KALI SETAHUN, SIAP JADI HARAPAN BARU?

Foto Berita

Dunia kesehatan global tengah menyoroti kehadiran Lenacapavir, sebuah obat suntik inovatif yang diklaim mampu mencegah penularan HIV dengan efektivitas luar biasa. Dalam uji klinis tahun 2024 yang melibatkan lebih dari 2.000 wanita muda di Afrika Selatan dan Uganda, tidak ada satu pun peserta yang menerima suntikan ini terinfeksi HIV. Obat yang dikembangkan oleh raksasa farmasi AS, Gilead Sciences, ini disebut sebagai terobosan paling revolusioner dalam satu dekade terakhir karena mendekati fungsi vaksin.

Meski Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan Lenacapavir sebagai bentuk tambahan Profilaksis Pra-Paparan (PrEP), kemunculannya menghadapi tantangan besar. Dana internasional untuk penanggulangan HIV dilaporkan turun drastis sebesar 18 persen pada 2025 menjadi hanya 7,3 miliar dolar AS, level terendah dalam dua dekade. Akibatnya, jumlah orang yang menerima obat pencegahan menurun dari 1,4 juta pada 2024 menjadi 1,1 juta pada 2025.

Masalah utama kini bukan lagi soal kemanjuran ilmiah, melainkan aksesibilitas dan harga. Di Amerika Serikat, biaya Lenacapavir mencapai sekitar 28.000 dolar AS per orang per tahun. Sementara itu, versi generiknya diprediksi hanya berharga sekitar 40 dolar AS per tahun. Sayangnya, bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, akses terhadap versi murah ini baru diperkirakan tersedia secara masif pada tahun 2027. Gilead sendiri saat ini memasok obat versi asli mereka secara nirlaba untuk program yang didukung Global Fund dan PEPFAR di negara-negara seperti Afrika Selatan, Kenya, dan Nigeria, namun ini belum menyentuh harga generik yang diharapkan.

Kesenjangan ini memicu kritik keras, terutama karena setidaknya 26 negara berpenghasilan menengah—termasuk beberapa negara yang menjadi lokasi uji klinis—dikeluarkan dari perjanjian lisensi generik Gilead. Situasi ini menciptakan paradoks menyakitkan: sebuah alat pencegahan yang sangat efektif telah ditemukan, namun aturan manufaktur dan harga berpotensi menghalangi obat tersebut sampai ke tangan orang-orang yang paling membutuhkannya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook