RUDAL RUSIA HANTAM UKRAINA, ZELENSKYY DESAK JUMPA PUTIN? - Berita Dunia
← Kembali

RUDAL RUSIA HANTAM UKRAINA, ZELENSKYY DESAK JUMPA PUTIN?

Foto Berita

Di tengah dentuman rudal dan serangan drone yang tiada henti dari Rusia, Ukraina justru sedang giat-giatnya mendorong upaya diplomatik tingkat tinggi. Kyiv berharap besar perundingan di Jenewa bisa membuka jalan bagi pertemuan langsung antara Presiden Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Vladimir Putin, meski gempuran Rusia terus meluluhlantakkan wilayahnya.

Tepat sebelum pertemuan penting antara Ukraina dan AS yang bertujuan mengakhiri perang, Rusia meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone ke berbagai penjuru Ukraina. Serangan malam hari itu melukai setidaknya delapan orang. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, melaporkan serangan dini hari yang merusak gedung permukiman sembilan lantai di distrik Darnytskyi serta memicu kebakaran di sebuah rumah dan garasi. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dilaporkan di ibu kota.

Namun, laporan lain dari kantor berita AFP menyebutkan tujuh orang terluka di Kharkiv dan satu orang lainnya di Kryvyi Rih, wilayah Dnipropetrovsk. Serangan-serangan ini menjadi bagian dari pola gempuran Rusia yang menargetkan kota-kota dan infrastruktur energi sipil Ukraina di tengah kondisi musim dingin yang ekstrem, meskipun ada dorongan kuat dari Washington untuk mencari solusi damai bagi konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II ini.

Di sisi lain, upaya diplomasi tak surut. Negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov, dijadwalkan bertemu dengan utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Jenewa. Pertemuan ini disebut-sebut sebagai pendahuluan untuk sesi penuh perundingan yang melibatkan Moskow, Kyiv, dan Washington yang diperkirakan berlangsung awal Maret.

Presiden Zelenskyy sendiri pada Rabu (waktu setempat) mengaku telah berbicara dengan mantan Presiden AS Donald Trump, yang turut dihadiri Witkoff dan Kushner dalam panggilan telepon 30 menit. Pembicaraan itu membahas isu-isu yang akan dibawa ke Jenewa serta persiapan untuk pertemuan tim negosiasi penuh format trilateral pada awal Maret.

Zelenskyy, yang berulang kali menyatakan keinginan bertemu langsung dengan Putin untuk menyelesaikan isu-isu paling pelik, sangat berharap pertemuan di Jenewa ini bisa "menciptakan peluang untuk memajukan pembicaraan ke tingkat pemimpin." Uniknya, Trump disebut mendukung langkah ini, yang menurut Zelenskyy, adalah "satu-satunya cara untuk menyelesaikan semua isu kompleks dan sensitif dan akhirnya mengakhiri perang."

Namun, perjalanan menuju meja perundingan tingkat pemimpin tidaklah mulus. Putin di masa lalu berulang kali menolak pertemuan semacam itu, bahkan mempertanyakan legitimasi Zelenskyy sebagai pemimpin Ukraina. Sementara itu, agen berita negara Rusia TASS melaporkan bahwa utusan Kremlin untuk urusan ekonomi, Kirill Dmitriev, juga dijadwalkan berada di Jenewa pada Kamis untuk "melanjutkan negosiasi dengan Amerika tentang masalah ekonomi," menandakan adanya saluran komunikasi paralel yang fokus pada aspek lain.

Analisis Editor:
Kontras antara eskalasi militer dan upaya diplomatik yang simultan menunjukkan kompleksitas konflik Ukraina yang kini memasuki tahun kelima (sejak 2014). Serangan Rusia yang tanpa henti, terutama yang menargetkan infrastruktur sipil di musim dingin, jelas menimbulkan penderitaan besar bagi masyarakat dan memperburuk krisis kemanusiaan. Ini adalah taktik perang yang sering dikutuk secara internasional, namun terus digunakan Moskow untuk memberi tekanan.

Di sisi lain, desakan Kyiv untuk pertemuan tingkat pemimpin, didukung oleh AS, menandakan adanya harapan atau setidaknya upaya untuk mencari jalan keluar politik, meskipun di tengah kondisi yang sangat sulit. Keterlibatan Donald Trump dalam percakapan tingkat tinggi, mengingat klaimnya di masa lalu yang bisa mengakhiri perang dalam 24 jam jika kembali menjabat, menambah dinamika menarik. Ini bisa menjadi dorongan atau justru komplikasi lebih lanjut, tergantung bagaimana perannya dimainkan. Kehadiran utusan ekonomi Rusia di Jenewa secara terpisah juga menarik, menunjukkan bahwa ada banyak lapis diplomasi yang berjalan, tidak hanya terkait perdamaian, namun juga kepentingan ekonomi. Pertemuan di Jenewa dan Maret mendatang akan menjadi penentu apakah ada celah signifikan yang bisa dimanfaatkan untuk meredakan tensi, ataukah ini hanya putaran negosiasi yang mandek lagi di tengah desingan rudal. Masyarakat sipil Ukraina, yang terus menanggung beban konflik, tentu sangat menantikan hasil konkret dari semua upaya ini.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook