Konflik bersenjata di Yaman kembali memanas. Pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang diakui internasional baru saja meluncurkan operasi besar-besaran untuk merebut kembali distrik pegunungan strategis al-Waziiya di Provinsi Taiz dari cengkeraman kelompok Houthi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menguasai kembali wilayah pesisir Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb yang vital.
Operasi ini merupakan bagian dari serangan "Fajar Yaman" yang diumumkan pada hari Minggu oleh Rashad al-Alimi, ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman. Tujuan utamanya adalah merebut kembali semua wilayah yang masih dikuasai Houthi, termasuk ibu kota Sanaa, yang telah mereka kuasai sejak 2014.
Di sisi lain, koalisi yang dipimpin Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman mengklaim telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke arah kota Khamis Mushait. Serangan ini juga dilaporkan menyebabkan kerusakan pada Bandara King Abdullah di Jazan dan Bandara Najran, serta melukai tiga orang.
Perebutan distrik al-Waziiya ini sangat krusial. Distrik pegunungan ini terletak di sebelah barat Taiz dan timur pelabuhan Mocha di Laut Merah. Houthi sebelumnya berhasil merebut Mocha dan area sekitar Selat Bab al-Mandeb dalam serangan kilat bulan lalu. Tanpa menguasai al-Waziiya, pemerintah Yaman akan kesulitan untuk bisa merebut kembali kota pelabuhan Mocha.
Analisis & Dampak: Pertempuran ini bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan pertarungan untuk menguasai jalur pelayaran internasional. Selat Bab al-Mandeb adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Jika Houthi terus menguasai wilayah pesisir ini, mereka dapat mengancam kapal-kapal kargo internasional, yang berpotensi mengganggu rantai pasokan global dan menaikkan biaya logistik. Bagi masyarakat Yaman, eskalasi ini berarti penderitaan yang berkepanjangan, dengan risiko kelaparan dan penyakit yang terus meningkat akibat perang yang tak kunjung usai.