Bamako, Mali - Front Pembebasan Azawad (FLA) resmi menarik pasukannya dari Kota Kidal, Mali utara. Keputusan ini diambil setelah militer Mali melancarkan serangan udara besar-besaran yang dibantu oleh pasukan Rusia.
Dalam pernyataannya, FLA menyebut penarikan ini sebagai 'langkah operasional sementara'. Tujuannya jelas: menyelamatkan kekuatan logistik dan personel mereka agar tidak hancur di medan tempur. Menariknya, mereka mengklaim mundur tanpa sempat terlibat baku tembak langsung dengan musuh.
Militer Mali tidak main-main. Mereka menggelar operasi darat dan udara skala besar untuk memburu kelompok bersenjata di sekitar Kidal. Target utamanya adalah menghancurkan jaringan pasokan pemberontak dan mengembalikan keamanan di wilayah tersebut.
Menurut sumber keamanan, pasukan pro-pemerintah, termasuk paramiliter Rusia, langsung masuk kembali ke Kidal pada Selasa sore. Ini menjadi pukulan telak bagi FLA yang baru enam bulan menguasai kota strategis itu.
Konflik di Mali bukan barang baru. Sejak 2012, negara ini terus bergolak. Pemberontakan separatis Tuareg awalnya meletus, namun kemudian dibajak oleh militan Islam yang berafiliasi dengan Al-Qaeda (JNIM). Meski berbeda ideologi, FLA dan JNIM sempat bersatu padu melawan pemerintah Mali.
Sejak kudeta militer 2021, junta berkuasa berjanji memulihkan ketertiban. Mereka mengusir pasukan Prancis dan PBB, lalu beralih ke Rusia untuk dukungan militer. Sayangnya, sejak aliansi FLA dan JNIM melancarkan ofensif gabungan pada April lalu, serangan terhadap pasukan pemerintah justru makin meningkat.
Dampak Bagi Masyarakat: Perebutan Kidal ini adalah pukulan strategis bagi kelompok separatis. Bagi warga sipil, kembalinya kontrol militer mungkin membawa harapan stabilitas, namun juga memicu kekhawatiran akan eskalasi kekerasan lanjutan mengingat kelompok JNIM masih aktif beroperasi di wilayah tersebut.