Para pembaca, kabar ekonomi dunia kembali bergejolak! Harga minyak mentah global melonjak tajam, sementara bursa saham di sebagian besar negara Asia Raya, khususnya Asia Tenggara, ambruk. Pemicunya? Pidato terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan kelanjutan serangan terhadap Iran tanpa batas waktu yang jelas, membakar kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan energi.
Pada Kamis pagi, harga minyak Brent crude futures langsung meroket lebih dari 6 persen, mencapai $107,49 per barel. Tak ketinggalan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melambung lebih dari 5 persen ke angka $105,40 per barel. Kenaikan drastis ini datang setelah sempat sedikit merosot sebelum pidato Trump, menunjukkan betapa besar pengaruh pernyataan tersebut.
Pernyataan Trump yang mengatakan "akan menyelesaikan pekerjaan ini sangat cepat" dan "semakin dekat", namun tanpa komitmen jelas untuk mengakhiri konflik, membuat investor kembali dihantui ketidakpastian. Situasi ini diperparah oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas serangan AS-Israel. Ingat, Selat Hormuz adalah jalur vital yang menyuplai sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global, dan penutupannya sudah memicu krisis energi terbesar dalam beberapa dekade.
Dampaknya langsung terasa di Asia. Bursa saham di kawasan ini rontok. Indeks utama pasar berkembang Asia (MSCI gauge of EM Asia equities) anjlok 2,3 persen, dan mata uang regional melemah 0,2 persen. Negara-negara Asia Tenggara menjadi salah satu yang paling rentan karena ketergantungan mereka yang tinggi pada impor minyak.
Korea Selatan merasakan pukulan terberat. Indeks KOSPI mereka terjun bebas 4,2 persen. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bahkan langsung meminta parlemen untuk segera mengesahkan anggaran tambahan sebesar 26,2 triliun won (sekitar $17,3 miliar) demi menopang ekonomi di tengah "ancaman keamanan energi terburuk" yang disebabkan oleh krisis Timur Tengah ini.
Tidak hanya Korsel, pasar saham di Singapura, Malaysia, Indonesia, Taiwan, China, dan Hong Kong juga tak luput dari dampak. Indeks STI Singapura terpangkas 0,8 persen, bursa Malaysia anjlok 1 persen, Indonesia dan Taiwan masing-masing turun sekitar 1 persen dan 1,4 persen. Sementara itu, indeks Shanghai Composite China melemah 0,53 persen dan Hang Seng Hong Kong tergelincir 1,1 persen.
Kondisi ini sungguh kontras dengan suasana sesaat sebelum pidato Trump, di mana pasar sempat lega setelah Iran secara tak biasa mengirim surat ke AS, menyatakan tidak ada permusuhan dan bertindak membela diri. Momen itu sempat mendongkrak Wall Street. Namun kini, seperti yang dikatakan jurnalis Al Jazeera Patrick Fok dari Singapura, "banyak ketidakpastian kembali ke pasar."
Bagi masyarakat umum, kenaikan harga minyak ini adalah sinyal peringatan. Biaya logistik dan produksi akan meningkat, yang pada akhirnya bisa memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan inflasi. Pemerintah di negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, perlu bersiap menghadapi tekanan ekonomi dan menyusun strategi untuk melindungi daya beli masyarakat. Krisis energi global ini bukanlah sekadar angka di bursa saham, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan kesejahteraan banyak negara.