Kosta Rika baru saja menggelar pemilihan umum yang krusial. Laura Fernandez, tangan kanan dan mantan kepala staf Presiden Rodrigo Chaves yang tengah menjabat, digadang-gadang akan memenangkan kursi kepresidenan dan mengamankan dominasi di parlemen, di tengah bayang-bayang gelombang kekerasan yang dipicu narkoba yang kian meresahkan.
Tempat pemungutan suara dibuka pada Minggu pukul 06.00 waktu setempat, dan akan tetap beroperasi hingga pukul 18.00. Hasil awal diprediksi akan mulai terlihat beberapa jam setelahnya. Dalam survei terakhir, Laura Fernandez memimpin dengan lebih dari 40 persen suara, angka yang cukup untuk memenangkannya secara langsung tanpa perlu putaran kedua pada 5 April mendatang.
Fernandez telah berjanji untuk melanjutkan kebijakan keamanan keras ala Chaves dan pesan anti-kemapanan yang populer. Rival terdekatnya dari 20 kandidat adalah Alvaro Ramos, seorang ekonom sentris dari partai politik tertua di Kosta Rika, serta Claudia Dobles, seorang arsitek yang mewakili koalisi progresif sekaligus mantan Ibu Negara yang suaminya, Carlos Alvarado, menjabat presiden dari 2018 hingga 2022. Keduanya masih berada di posisi satu digit, namun dianggap paling berpeluang jika Fernandez gagal mencapai ambang 40 persen.
Lebih dari sekadar kursi kepresidenan, Fernandez juga mendesak pemilih untuk memberinya 40 kursi di Majelis Legislatif (parlemen) yang berjumlah 57 kursi. Jumlah ini akan memberinya mayoritas super yang diperlukan untuk mengesahkan reformasi konstitusi. Pemerintahan Chaves saat ini hanya memegang delapan kursi, dan kerap menyalahkan kebuntuan di parlemen sebagai penghambat agenda mereka.
Survei menunjukkan sekitar seperempat dari 3,7 juta pemilih masih belum menentukan pilihan. Kelompok terbesar pemilih yang bimbang ini berasal dari usia 18 hingga 34 tahun dan berlokasi di provinsi-provinsi pesisir seperti Guanacaste, Puntarenas, dan Limon. "Masyarakat lelah dengan janji-janji dari semua pemerintah, termasuk yang ini, meskipun pemerintah telah mengatakan hal-hal yang benar, seperti membutuhkan hukum yang lebih kuat untuk memulihkan ketertiban," ujar Yheison Ugarte, seorang pengantar barang berusia 26 tahun dari Limon, kota pelabuhan Karibia yang paling parah dilanda kekerasan narkoba.
Meski angka pembunuhan melonjak hingga rekor tertinggi selama masa jabatannya dan menghadapi berbagai penyelidikan korupsi, Presiden Chaves tetap sangat populer, dengan tingkat persetujuan mencapai 58 persen menurut jajak pendapat CIEP Universitas Kosta Rika. Meskipun undang-undang Kosta Rika tidak mengizinkan presiden menjabat dua periode berturut-turut, Fernandez secara terbuka menempatkan dirinya sebagai penerus mandat Chaves, bahkan berjanji akan menyertakan Chaves dalam pemerintahannya. Ini menunjukkan strategi politik yang kuat untuk menjaga kesinambungan kekuasaan dan memanfaatkan popularitas Chaves di tengah isu keamanan yang mendominasi.