BADAI SIKLON SENYAR TEWASKAN 58 ORANGUTAN TAPANULI, SPESIES KRITIS KIAN TERANCAM - Berita Dunia
← Kembali

BADAI SIKLON SENYAR TEWASKAN 58 ORANGUTAN TAPANULI, SPESIES KRITIS KIAN TERANCAM

Foto Berita

Medan, Indonesia – Hujan deras dan tanah longsor yang menerjang Pulau Sumatera selama empat hari pada November 2024 lalu membawa dampak mematikan bagi satwa endemik paling langka di dunia. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa 58 ekor Orangutan Tapanuli, atau sekitar 7 persen dari total populasi yang tersisa kurang dari 800 individu, tewas akibat bencana hidrometeorologi ekstrem tersebut.

Penelitian yang diterbitkan pada Rabu (12/3) ini menunjukkan angka kematian itu dua kali lebih tinggi dari perkiraan awal. Sebelumnya, para ahli memperkirakan sekitar 35 orangutan menjadi korban. Angka 58 ekor ini pun dinilai masih konservatif karena belum memperhitungkan kerusakan kanopi hutan dan berkurangnya ketersediaan pangan pascabencana.

Badai Siklon Senyar yang melanda akhir November 2024 lalu tercatat sebagai bencana alam paling mematikan di Asia Tenggara sepanjang 2025, dengan lebih dari 1.000 korban jiwa manusia. Dalam laporan sebelumnya, petugas kemanusiaan bahkan menemukan bangkai seekor Orangutan Tapanuli terkubur di tengah tumpukan lumpur dan kayu di Desa Pulo Pakkat, Tapanuli Tengah.

“Saya melihat beberapa jenazah manusia dalam beberapa hari terakhir, tapi ini pertama kalinya saya melihat satwa liar mati,” ujar Deckey Chandra, relawan kemanusiaan yang menemukan bangkai tersebut. “Mereka biasa datang ke sini untuk makan buah. Sekarang tempat ini seolah menjadi kuburan mereka.”

Profesor Erik Meijaard, Direktur Pelaksana Borneo Futures sekaligus penulis studi, mengaku terkejut dengan kondisi bangkai yang terlihat di foto. “Semua daging di wajahnya terkoyak. Jika beberapa hektar hutan runtuh dalam longsor besar, orangutan yang kuat pun tidak berdaya dan hancur,” katanya.

Para peneliti menegaskan bahwa Siklon Senyar adalah peristiwa anomali, namun perubahan iklim akibat ulah manusia menjadi faktor utama yang memperparah frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Mereka memperingatkan bahwa hujan ekstrem serupa kemungkinan akan terus terjadi di masa depan, mengancam habitat dan populasi Orangutan Tapanuli yang kritis.

Spesies yang baru ditemukan pada 2017 ini diperkirakan akan punah jika kehilangan lebih dari 1 persen populasinya setiap tahun. “Kehilangan 58 individu dari total 580 ekor di populasi inti berarti sekitar 10 hingga 11 persen populasi lokal lenyap dalam sekejap,” ujar Profesor Sergei Vich, primatologis dari Liverpool John Moore University. “Ini pukulan telak bagi kelangsungan spesies.”


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook