Jakarta – Dulu, mobil convertible atau atap terbuka identik dengan gaya hidup kelas atas, kebebasan, dan pemberontakan. Aktor sekelas Grace Kelly dan Cary Grant di film 'To Catch a Thief' atau ikon budaya pop di 'Thelma & Louise' sukses menjadikan mobil ini simbol kemewahan. Namun, pamor mobil tersebut kini meredup drastis.
Data dari Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) menunjukkan penjualan mobil convertible baru di Inggris ambruk hampir 90 persen dalam 20 tahun terakhir. Pada 2005, angka penjualan mencapai 109.171 unit, namun pada tahun lalu hanya tersisa 11.484 unit.
Jatuhnya popularitas ini berbanding lurus dengan menjamurnya mobil Sport Utility Vehicle (SUV). Riset Dataforce GmbH mencatat, SUV kini menguasai 59 persen pangsa pasar mobil di Eropa. Mobil jenis ini dianggap lebih praktis untuk keluarga modern.
“Saya selalu bilang SUV adalah mobil sport bagi mereka yang tidak bisa lagi punya mobil sport. SUV punya citra yang dulu dimiliki convertible, tapi tanpa kekurangan ruang,” ujar Steve Fowler, jurnalis otomotif senior.
Produsen juga enggan memproduksi convertible karena biaya riset dan pengembangan yang tinggi, sementara permintaan pasar sangat kecil. “Butuh biaya besar untuk memproduksi mobil jenis ini, apalagi dengan regulasi keselamatan yang ketat,” tambah Fowler.
Kini, hanya sedikit model convertible yang tersisa di pasaran, dan harganya cenderung mahal. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin mobil atap terbuka hanya akan menjadi kenangan di jalan raya.