Jakarta, 10 Juli 2025 – Amerika Serikat kembali menjadi penengah dalam perundingan antara Israel dan Lebanon yang berlangsung di Roma selama dua hari. Seorang pejabat AS menyebut pembahasan kali ini sangat produktif dan positif, terutama soal pembentukan 'zona percontohan' atau pilot zone di Lebanon selatan.
Dalam kesepakatan yang dirancang pada 26 Juni lalu, Israel setuju menarik pasukannya dari wilayah pendudukan di Lebanon selatan. Sebagai imbalannya, kelompok Hizbullah yang didukung Iran harus melucuti senjatanya. Rencananya, proses penarikan akan dimulai dari dua zona percontohan, di mana Tentara Lebanon akan mengambil alih kendali dan membersihkan area tersebut dari keberadaan Hizbullah.
Meski lokasi pasti zona tersebut belum diumumkan secara resmi, kantor berita Jerman dpa menyebut beberapa desa yang masuk daftar antara lain Zawtar al-Gharbiyah, Zawtar al-Sharqiyah, al-Ghandouriyah, Burj Qalawiyah, Sarifa, dan Frun. Negosiasi selanjutnya akan masuk ke tahap teknis untuk mewujudkan kesepakatan komprehensif antara kedua negara.
Analis kebijakan dari Badil: The Alternative Policy Institute, Sami Halabi, menilai inisiatif zona percontohan ini menjadi ujian nyata. Pertama, menguji keseriusan Israel benar-benar hengkang dari Lebanon. Kedua, menguji seberapa besar pengaruh AS terhadap Israel. Ketiga, menguji kemampuan Tentara Lebanon mengembalikan otoritasnya di wilayah selatan. “Kita sedang berada di titik di mana Lebanon beralih dari sekadar klaim kedaulatan menjadi benar-benar menjalankan kedaulatannya melalui zona-zona ini,” ujar Halabi kepada Al Jazeera.
Perundingan ini merupakan putaran keenam sejak perang terbaru antara Israel dan Hizbullah pecah pada 2 Maret lalu. Meski ada kemajuan, situasi tetap rapuh. Hizbullah menolak dilucuti dan hanya mau bernegosiasi di bawah tekanan Iran. Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 4.000 warga Lebanon tewas dan lebih dari satu juta orang mengungsi sejak Maret. Di pihak Israel, setidaknya 32 tentara dan empat warga sipil tewas akibat serangan Hizbullah.
Halabi memperingatkan bahwa meskipun kesepakatan 26 Juni berhasil meredam kekerasan, proses ini bisa runtuh kapan saja. “Skenario terbaiknya, ini memulai proses yang terstruktur dan kredibel,” katanya, merujuk pada harapan agar Tentara Lebanon benar-benar mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Israel.