CEO Ultimate Fighting Championship (UFC), Dana White, dikabarkan akan bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Senin (waktu setempat). Pertemuan ini digelar untuk membahas tawaran posisi Juru Bicara Gedung Putih yang diajukan langsung oleh Trump.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengumumkan tawaran tersebut secara terbuka. Ia menulis, "Dana akan menjadi Juru Bicara yang tidak ada bandingannya. Dana, tolong ambil pekerjaan ini!" Tidak hanya itu, Trump juga meminta White untuk membawa sejumlah asisten, bahkan menyertakan foto enam juara UFC saat ini dan mantan juara untuk ikut bergabung.
Nama-nama yang disebutkan Trump antara lain Islam Makhachev dan Khabib Nurmagomedov (Rusia), Justin Gaethje, Daniel Cormier, Kayla Harrison (AS), serta Amanda Nunes (Brasil). Menurut Trump, mereka dibutuhkan untuk "mempertahankan kita melawan Kiri Gila."
Posisi Juru Bicara Gedung Putih sendiri tengah kosong setelah Katie Zacharia hanya menjabat selama lima hari bulan lalu. Ia menggantikan Karoline Leavitt yang mundur pada akhir Agustus. Hubungan dekat White dan Trump bukan hal baru; White secara terbuka mendukung kampanye presiden Trump pada 2016, dan Trump rutin menghadiri even UFC. Bahkan, Gedung Putih sempat menggelar pertandingan UFC pada Juni lalu untuk merayakan 250 tahun kemerdekaan AS.
Analisis Dampak: Penunjukan figur kontroversial seperti Dana White di posisi strategis pemerintahan berpotensi mengubah lanskap komunikasi publik Gedung Putih. Pendekatan White yang blak-blakan dan agresif mungkin akan menggeser gaya komunikasi formal kenegaraan menjadi lebih provokatif. Bagi masyarakat, informasi resmi pemerintah bisa jadi lebih menghibur namun berisiko mengurangi nuansa diplomasi. Sementara itu, keterlibatan atlet UFC dalam struktur pemerintahan menimbulkan pertanyaan tentang batas antara dunia hiburan dan politik praktis.