MONTEVIDEO - Pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV, akhirnya mendarat di Montevideo, Uruguay, pada Jumat waktu setempat. Kedatangannya ini menjadi momen yang cukup mengejutkan publik mengingat tiga minggu sebelumnya ia baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor kanker paru-paru.
Penerbangan selama 13 jam dari Roma tidak menyurutkan semangat pria berusia 71 tahun tersebut. Kepada awak media di dalam pesawat kepausan, Leo mengaku kondisi kesehatannya saat ini berada di fase yang cukup baik. Ia bahkan menegaskan tidak pernah ragu untuk tetap melanjutkan misi kunjungannya ke tiga negara di Amerika Selatan.
"Saya tahu beberapa orang meragukan perjalanan ini bisa terjadi. Saya tidak ragu dan yakin perjalanan ini harus terus berjalan," ujar Leo seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat (24/10).
Agenda kunjungan Paus selama 12 hari ini terbilang padat dan menantang. Selain Uruguay, ia dijadwalkan mengunjungi Argentina dan Peru. Di Uruguay sendiri, Paus akan menyambangi kawasan permukiman yang rawan kekerasan geng, memimpin misa akbar di Paysandu dan Florida, hingga bertemu umat di wilayah yang dikenal paling sekuler di kawasan tersebut.
Menariknya, perjalanan ini terasa seperti pulang kampung bagi Paus Leo. Pasalnya, ia pernah mengabdi sebagai misionaris selama hampir dua dekade di Peru. Ia bahkan dijadwalkan menyambangi kembali keuskupan lamanya di Chiclayo dan meninjau kapel yang pernah ia bantu bangun.
Meski tim medis telah memberikan lampu hijau dan menyatakan tidak perlu tindakan medis khusus, antusiasme masyarakat tetap luar biasa. Tiket misa di berbagai kota ludes diserbu umat. Vatikan menilai stamina Paus memang luar biasa, terbukti dari kemampuannya bernyanyi yang menunjukkan kondisi paru-parunya masih kuat.
Analisis Dampak: Kunjungan ini menjadi angin segar bagi kawasan Amerika Selatan yang tengah menghadapi tantangan ketimpangan sosial dan penurunan jumlah umat Katolik. Kehadiran Paus di tengah wilayah rawan konflik dan kekerasan geng diharapkan mampu membawa pesan perdamaian dan memperkuat harapan masyarakat setempat, sekaligus menegaskan komitmen Vatikan terhadap isu-isu kemanusiaan di kawasan tersebut.