Langit Mosul, Irak, kembali diselimuti asap tebal membumbung tinggi, menyusul serangkaian serangan udara. Insiden ini, yang menargetkan markas Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) di area Rashidiya, memicu kekhawatiran akan semakin meluasnya konflik regional di bumi Irak.
Serangan pada posisi PMF di Rashidiya, Mosul, ini terjadi hanya sehari setelah PMF melaporkan lima korban jiwa: tiga pejuang mereka dan dua polisi Irak tewas akibat serangan serupa. Eskalasi ini memperparah situasi keamanan di Irak yang kini seolah menjadi medan perang proksi antara kekuatan regional dan internasional, khususnya Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Analisis: Keberadaan PMF, kelompok paramiliter yang erat kaitannya dengan Iran, seringkali menjadi sasaran empuk dalam ketegangan yang melibatkan kekuatan global. Serangan balasan ini tidak hanya meningkatkan risiko konflik bersenjata yang lebih besar, tetapi juga mengancam stabilitas dan keselamatan warga sipil yang telah lama mendambakan perdamaian di Mosul. Situasi ini menggarisbawahi betapa rentannya Irak terhadap gejolak geopolitik, mengubahnya menjadi arena pertarungan kepentingan yang dapat memicu ketidakpastian jangka panjang di kawasan tersebut.