Harga barang dan jasa di Amerika Serikat kembali merangkak naik menjelang pemilu sela. Laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) menunjukkan inflasi tahunan naik ke 3,7 persen pada September, dari sebelumnya 3,4 persen di Agustus. Secara bulanan, harga naik 0,6 persen.
Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga bensin yang naik 9,1 persen dalam sebulan. Ketegangan geopolitik di Iran serta perang Rusia-Ukraina disebut-sebut mengganggu rantai pasok energi global. Harga bensin rata-rata kini tembus 4,33 dolar per galon, dan diesel lebih tinggi lagi di 6,29 dolar per galon.
Di sisi lain, biaya tempat tinggal juga naik 0,4 persen. Harga pangan relatif stabil, meski harga ayam dan buah naik, sementara susu dan daging sapi justru turun. Menariknya, harga perangkat lunak komputer melesat 28 persen akibat masifnya investasi di infrastruktur AI.
Data ini muncul beberapa hari sebelum rapat The Fed. Bank sentral AS sebelumnya menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75â4,00 persen. Kini, ekonom terbelah: apakah The Fed akan kembali menaikkan bunga atau menahannya. Pasar memperkirakan peluang kenaikan bunga sekitar 52,9 persen.
Analisis Singkat: Bagi masyarakat AS, kenaikan harga bensin dan sewa langsung menggerus daya beli. Jika The Fed kembali menaikkan bunga, biaya pinjamanâdari KPR hingga kartu kreditâakan semakin mahal. Ini bisa memperlambat ekonomi, tetapi juga berisiko memicu resesi jika terlalu agresif. Bagi Indonesia, kenaikan bunga AS berpotensi menarik modal keluar dari negara berkembang, melemahkan rupiah, dan menaikkan biaya impor. Pemerintah perlu mengantisipasi tekanan ini dengan menjaga stabilitas fiskal dan moneter.