Presiden FIFA Gianni Infantino membuat pernyataan mengejutkan, seolah menarik diri dari ambisi perdamaian dunia yang sempat ia gaungkan. Setelah beberapa bulan lalu menganugerahkan 'FIFA Peace Prize' kepada Donald Trump, kini ia tegas mengatakan bahwa organisasinya 'jelas tidak bisa menyelesaikan konflik geopolitik'.
Sikap kontradiktif ini memicu tanda tanya besar soal peran FIFA di kancah politik global. Pemberian penghargaan kepada Donald Trump, yang kepemimpinannya kerap diwarnai kontroversi, sebelumnya sudah memicu perdebatan di berbagai kalangan. Kala itu, banyak pihak mempertanyakan dasar dan tujuan FIFA terlibat dalam isu politik sensitif, terlebih dengan citra Trump yang sering dianggap memecah belah.
Kini, dengan pernyataan terbaru Infantino, FIFA seolah mengakui batas kemampuannya dalam diplomasi tingkat tinggi, atau mungkin, merespons kritik yang terus bergulir. Pernyataan ini bisa diartikan sebagai upaya mengembalikan fokus organisasi pada inti tugasnya: mengurus sepak bola dan kompetisinya. Pertanyaan yang muncul adalah: apakah FIFA memang pernah serius dengan 'misi damai' tersebut, ataukah itu hanya manuver hubungan masyarakat semata yang kini kandas di hadapan realita politik global?