Peta politik di Amerika Latin tengah bergeser. Sejumlah pemimpin baru dari kubu kanan mulai membalikkan kebijakan yang sebelumnya bertujuan mengisolasi Israel, terutama setelah perang di Gaza. Langkah ini menandai babak baru diplomasi kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, pada 8 Oktober lalu mengumumkan bahwa Kolombia akan memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. Ia menyebut langkah ini sebagai kemenangan diplomasi dan berharap Brasil segera menyusul. Perubahan ini dipicu oleh naiknya partai kanan di kawasan, di mana dukungan terhadap Israel dijadikan alat kampanye untuk meraih suara.
Di Brasil, misalnya, hubungan dengan Israel menjadi isu panas dalam pemilu. Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva yang pro-Palestina bersaing ketat dengan Senator Flavio Bolsonaro dari kubu kanan. Bolsonaro terlihat memamerkan bendera Israel dan menjalin kedekatan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sinyal jelas adanya upaya pemulihan hubungan jika ia menang.
Selain faktor politik dalam negeri, para ahli menilai pergeseran ini didorong oleh keinginan pemimpin baru untuk menunjukkan keselarasan dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump. Tekanan lobi kelompok Kristen Evangelis dan organisasi pendukung Israel juga sangat kuat di kawasan ini. Kolombia sendiri baru saja memulai kebijakan bebas visa dengan Israel, menandakan pemerintah baru Abelardo de la Espriella ingin memulihkan hubungan yang sempat putus akibat perang Gaza.
Analisis Dampak: Pergeseran ini berpotensi melemahkan solidaritas Global South yang sebelumnya vokal mengecam agresi Israel. Bagi masyarakat Amerika Latin, kebijakan luar negeri yang condong ke Israel bisa memicu polarisasi domestik, mengingat basis pendukung kiri masih kuat. Sementara itu, bagi Palestina, langkah ini adalah pukulan diplomatik karena kehilangan dukungan dari negara-negara berpengaruh di kawasan tersebut.