Nasib nahas menimpa Hassan Akkad, aktivis asal Suriah yang juga pernah memenangkan penghargaan BAFTA dan Emmy Internasional. Ia ditangkap aparat keamanan di Damaskus pada Rabu malam, 18 Juni 2025, sekitar pukul 21.45 waktu setempat. Penangkapan terjadi di sebuah kafe di kawasan elitis al-Malki, saat ia sedang bertemu dengan sejumlah jurnalis.
Penangkapan ini diduga kuat karena unggahan Akkad di media sosial yang mengkritik jurnalis kondang Mousa al-Omar. Akkad menuduh al-Omar tidak menepati janji donasi ratusan ribu dolar untuk rekonstruksi Suriah pasca jatuhnya rezim Bashar al-Assad. Al-Omar sendiri mengaku sudah melaporkan Akkad ke polisi, namun belakangan ia mencabut laporan tersebut dan menyatakan 'bersedih' atas kejadian ini.
Jaksa Penuntut Umum, Hakim Hossam Khattab, mengonfirmasi bahwa penangkapan Akkad berdasarkan surat perintah yang masih berlaku. Meski kasus utama sudah dicabut, tim kuasa hukum Akkad menemukan adanya kasus-kasus lain yang disematkan padanya tanpa identitas pelapor yang jelas. Hingga berita ini diturunkan, Akkad masih ditahan dan pemerintah Suriah belum memberikan tanggapan resmi.
Analisis Dampak: Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi kebebasan berekspresi di Suriah pasca-Assad. Alih-alih demokratisasi, aparat keamanan justru masih menggunakan jerat hukum siber untuk membungkam kritik. Ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah Suriah yang baru benar-benar menjamin hak sipil warganya, atau hanya berganti penguasa tapi sistem represifnya tetap hidup?