Beirut, Lebanon - Meskipun Presiden AS Donald Trump kembali mengkritik keras tindakan Israel di Lebanon, militer Israel tetap melanjutkan serangan udaranya. Pada Rabu, jet tempur Israel menghujani area Nabatieh al-Fawqa dan pinggiran Kfar Tebnit di Lebanon selatan, seperti dilaporkan oleh kantor berita nasional Lebanon, NNA. Hingga saat ini, militer Israel belum memberikan komentar resmi, namun mereka sebelumnya selalu beralasan bahwa serangan itu menargetkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Kritik Trump dilontarkan di sela-sela KTT G7 di Prancis. Ia menegaskan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu harus 'lebih bertanggung jawab' soal Lebanon. 'Israel sudah terlalu lama berperang dengan Hizbullah dan terlalu banyak orang tewas,' ujar Trump, Selasa (27/8). Ia bahkan menyebut serangan Israel ke Beirut beberapa waktu lalu sebagai tindakan yang 'berlebihan'.
Ketegangan ini terjadi di tengah proses negosiasi gencatan senjata yang belum jelas ujungnya. Pakistan yang bertindak sebagai mediator menyebut kesepakatan antara AS dan Iran secara implisit juga mencakup situasi di Lebanon. Namun, isi resmi kesepakatan yang disebut sebagai nota kesepahaman itu belum juga dirilis ke publik. Trump berjanji akan membacakannya 'kata demi kata' dalam konferensi pers nanti.
Analisis Dampak: Situasi ini menunjukkan adanya friksi antara dua sekutu dekat, AS dan Israel, di tengah panggung internasional. Bagi masyarakat Lebanon, ini berarti penderitaan masih akan berlanjut. Serangan balasan antara Israel dan Hizbullah terus terjadi, membuat warga sipil menjadi korban. Sementara itu, isi perjanjian AS-Iran yang misterius justru menimbulkan spekulasi dan ketidakpastian. Apakah ini benar-benar akan membawa perdamaian atau justru memicu konflik baru? Yang jelas, ancaman Menteri Luar Negeri Iran yang akan menganggap serangan Israel sebagai pelanggaran kesepakatan membuat situasi semakin panas.