Peternak di Grabag, Magelang, kini tak lagi asing dengan nama Ayam KUB. Jenis ayam kampung unggulan hasil riset Balitbangtan ini menjadi buah bibir di kalangan peternak lokal, menawarkan harapan baru di tengah tantangan budidaya ayam kampung konvensional. Dengan segala kelebihannya, mulai dari pertumbuhan lebih cepat hingga produktivitas telur yang melesat, Ayam KUB kini digadang-gadang sebagai masa depan peternakan mandiri di wilayah ini.
Salah satu daya tarik utama Ayam KUB bagi warga Grabag adalah efisiensi waktu panennya. Jika ayam kampung biasa membutuhkan sekitar 12 minggu untuk mencapai bobot 1 kg, Ayam KUB mampu mencapainya hanya dalam 10 minggu. Hal ini berarti putaran modal peternak lebih cepat, sebuah keuntungan signifikan bagi pelaku usaha skala kecil hingga menengah. Ditambah lagi, ayam KUB bahkan mampu mulai bertelur lebih awal, sekitar usia 20-22 minggu, dibandingkan ayam kampung biasa yang umumnya 22-24 minggu.
Produktivitas telur Ayam KUB juga tak main-main, mencapai 180 butir per tahun, jauh melampaui 50-100 butir telur dari ayam kampung biasa. Angka ini membuka peluang besar bagi peternak Grabag untuk menggenjot pendapatan dari sektor telur. Bahkan, inovasi terbaru, Ayam KUB 2 atau “JANAKA”, menjanjikan performa yang lebih superior dengan kemampuan bertelur hingga 200 butir per tahun dan sifat mengeram yang jauh lebih rendah, menjadikannya pilihan investasi yang semakin menarik.
Tidak hanya unggul dalam produksi, Ayam KUB juga dikenal lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki tingkat kematian DOC di bawah 5%, jauh di bawah ayam kampung biasa yang bisa mencapai 27%. Dengan segala keunggulannya yang teruji, mempertimbangkan bibit Ayam KUB menjadi langkah strategis bagi peternak di Grabag yang ingin meningkatkan produktivitas dan profitabilitas. Pemilihan bibit yang tepat adalah kunci keberhasilan, dan Ayam KUB telah membuktikan diri sebagai pilihan yang layak untuk masa depan peternakan berkelanjutan.