Warga Ngasem, Bojonegoro, kini dihebohkan dengan kehadiran bibit ayam KUB. Bukan sekadar ayam kampung biasa, jenis unggul ini digadang-gadang mampu merevolusi dunia peternakan lokal. Para peternak dan pelaku kuliner di Ngasem mulai melirik potensi besar dari Ayam Kampung Unggulan Balitbangtan (KUB) ini, menjadikannya tren baru yang menjanjikan.
Salah satu keunggulan utama KUB yang menarik perhatian adalah produktivitasnya yang jauh melampaui ayam kampung biasa. Bayangkan, ayam KUB mampu menghasilkan hingga 180 butir telur per tahun, jauh di atas rata-rata ayam kampung lokal yang hanya 50-100 butir. Bagi peternak di Ngasem, ini berarti potensi keuntungan berlipat ganda dari penjualan telur dengan siklus bertelur yang lebih cepat dimulai sejak usia 20-22 minggu.
Tak hanya itu, KUB juga unggul dalam kecepatan pertumbuhan dan ketahanan tubuh. Dengan bobot panen 0,8-1 kg hanya dalam 10 minggu, peternak dapat mempercepat siklus panen. Di Ngasem, kondisi ini tentu sangat menguntungkan di tengah permintaan daging ayam kampung yang terus meningkat, memastikan pasokan yang stabil dengan kualitas daging yang tetap gurih. Daya tahan KUB terhadap penyakit, termasuk flu burung, serta tingkat kematian bibit muda yang rendah (di bawah 5%), meminimalkan risiko kerugian bagi peternak lokal.
Melihat berbagai keunggulan tersebut, tidak mengherankan jika bibit ayam KUB kini menjadi primadona di Ngasem. Investasi pada bibit unggulan ini bukan hanya sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah langkah cerdas untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas usaha peternakan. Bagi masyarakat Ngasem, KUB bukan hanya sekadar ayam, melainkan masa depan cerah bagi sektor agribisnis lokal.